RSS

Arsip Penulis: Supriyatna As-Syianjury

Tentang Supriyatna As-Syianjury

Aku adalah Aku, Aku bukan Kamu dan Kamu bukan Aku. Inilah hidupku yang tidak ingin diusik oleh siapa pun. Tetaplah menjadi dirimu yang apa adanya tanpa harus dibuat-buat

Apa Kabar IANW Bekasi_ku?

Sebuah pertanyaan yang mungkin sedikit nyeleneh untuk didengar, namun seperti itulah pertanyaan yang pantas menjadi pertanyaan besar untuk Alumni Nahdlatul Wathan Jakarta yang tersebar di wilayah Bekasi dan sekiratnya.

Semangat yang semakin hari ternyata semakin pudar menjadi hal terparah dalam membawa dan membesarkan nama Nahdlatul Wathan di tanah Bekasi. Namun demikian, apapun yang terjadi Nahdlatull Wathan di tanah Bekasi harus TETAP ada, tumbuh, dan berkembang meski dengan semangat para alumninya yang semakin memudar.

Untuk melakukan sebuah perubahan itu memamng berbahaya, namun lebih berbahaya lagi jika kita tidak mau berubah.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 13, 2011 in Uncategorized

 

Sejarah Singkat Shalawat Nahdlatain

 

Shalawat ini disusun pada tahun 1947/1366 H, ketika ia mendapat tugas dari pemerintah untuk menjadi Amirul Hajj dari NIT (Negara Indonesia Timur). Proses penyusunan shalawat nahdlatan in, berawal dari inspirasi yang muncul pada dirinya ketika berada di Rhaudhah ( makan Rasulullah SAW) di Madinah. Pada saat itu ada beberapa ulama yang berasal dari Mesir, Baghdad, dan lain-lain, ramai-ramai membaca berbagai  model dan varias shalawat yang dipersembahkan kepada Rasulullah SAW. Melihat seperti itu, maka ia terinspirasi pula untuk membuat sebuah kenang-kenangan dalam bentuk shalawat, ia kemudian  mengambil secarik kertas untuk mengorek bunyi atau lafazh shalawat tersebut. Sambil berdiri, duduk, berdiri, duduk mengoreksi dan meluruskan kalimatnya, maka dalam waktu singkat itu tersusunlah shalawat tersebut dengan rapi.

Sekembalinya dari Raudhah, ia membawa dan menyodorkan susunan shalawat tersebut kepada gurunya Syeikh Hasan Muhammad Al-Masysyat. Begitu teks shalawat itu diterima, sang guru spontan tersenyum, merasa senang dan gembira melihat hasil karya dari murd kesayangannya.

Menurutnya, tersenyumlah Syeikh Hasan Al-Masysyat melihat shalawat ini, merasa kagum terhadap untaian shalawat tersebut, yang di dalamnya terdapat tiga hal penting.

Pertama, di dalam shalawat ini terdapat kalimat “Bika” (dengan berkat kebesaran-Mu). Jadi, dengan secara langsung bertawasshul kepada Allah SWT tanpa perantara yang lain.

Kedua, dalam shalawat ini, bershalawatnya untuk seluruh Nabi dan Rasul, tidak hanya bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW saja, dengan kalimat yang mengatakan “Wa ‘Alaa Saairi al-Anbiyai Wa al-Mursaliin” (seluruh Nabi dan Rasul).

Ketiga, dalam shalawat iniTGKH Muhammad Zanuddin Abdul Madjid tidak lupa mendo’akan perjuangannya dengan kalimat yang mengatakan “Wa an Tu’ammira Nahdlah al-Wathani Wa Nahdlah al-Banati bi Furu’ihima Ila Yaumiddin” (Semoga Engkau waha Allah SWT berkenan memakmurkan NWDI dan NBDI, serta cabang-cabangnya sampai hari kemudian).

Selain ketiga hal yang menjadi kekaguman Syeikh Hasan Muhammad Al-Masysyat di atas, shalawat ini juga berisikan sejumlah permohonan (baca:do’a) kepada Allah SWT, yakni permohonan akan pertolongan Allah dalam menghadapi segala macam problematika kehidupan, terbukanya rahmat dan berkah dari Allah SWT, memohon rizki yang banyak, pemeliharaan dari segala macam bala atau bahaya, serta ampunan (maghfirah) dari Allah SWT atas segala noda dan dosa, sehingga pada saat meninggalkan dunia yang fana ini seseorang dapat meninggal dalam keadaan bersih

Sungguh begitu indah dan mempesona sebuah susunan shalawat yang telah ia susun dalam rangka mendo’akan segala yang memiliki keterkaitan dalam kehidupan baik dalam alam nyata maupun kasat mata. Terbukti bahwa seorang maha guru yang amat sayang kepadanya tersenyum kagum terhadap shalawat yang telah ia persembahkan untuk Allah SWT, Seluruh Nabi dan Rasul, dan untuk perjuangannya beserta cabang-cabangnya di mana saja berada hingga hari kiamat.

Semoga keberkahan tetap terlimpah kepada kita semua. Amin

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 5, 2011 in Uncategorized

 

Kini “Bunga”ku Tidak Ber”tangkai”

Oleh: U. Supriyatna As-Syianjury

Ust. Drs. H. M. Suhaidi dan Ust. Drs. H. Syahabuddin

“Seperti Bunga dan Tangkai”

Meski kini “bunga”ku tak ber”tangkai”, namun ia akan tetap menghiasi taman hati para generasi perjuangan di mana saja berada.
Meski kini “bunga”ku tak ber”tangkai”, kami yakin dan optimis ia akan tetap tegar meneruskan perjuangan
Meski kini “bunga”ku tak ber”tangkai”, kami yakin ia akan tetap memancarkan sinar perjuangan pd generasi Nahdlatul Wathan.
Meski kini “bunga”ku tak ber”tangkai”, kami yakin dan optimis Nahdlatul Wathan akan tetap bersinar dan berkibar.
Meski kini “bunga”ku tak ber”tangkai”, namun semangat juangnya tak akan pernah pudar.
Meski “bunga”ku tak ber”tangkai”, ia akan tetap tersenyum menghadapi setiap cobaan
Meski “bunga”ku tak ber”tangkai”, ia pasti akan tetap menanamkan nilai perjuangan kepada benih-benih pejuang yang telah ia siapkan.
Meski “bunga”ku tak ber”tangkai”, kecintaannya terhadap Nahdlatul Wathan TIDAK akan pernah pudar.
Meski “bunga”ku tak ber”tangkai”, ia akan tetap berdiri kokoh sebagai pejuang Nahdlatul Wathan.
Meski “bunga”ku tak ber”tangkai”, tak akan mampu untuk tergantikan.
Meski “bunga”ku tak ber”tangkai”, kami siap menjadi pagar bagi “bunga”ku yang kini tak ber”tangkai”.
Bukan Aku
Bukan Kamu
Tapi KITA.
NW-ku
NW-mu
NW Kita Bersama

Tulisan ini sengaja Saya buat untuk mengenang kepergian Ust. Drs. H. Syahabuddin, Seorang Tokoh, Guru, Pengasuh, Pembimbing, sekaligus orangtua, yang begitu banyak meninggalkan kenangan saat bersama, menanmkan nilai-nilai pendidikan dan perjuangan kepada benih-benih penerus Nahdlatul Wathan.
Tulisan ini juga sengaja Saya persembahan untuk seluruh generasi Nahdlatul Wathan di mana saja berada, dan tulisan ini pula terinspirasi dari sebuah “nilai persahabatan” yang ada pada Orangtua kita Bpk. Drs. H. M. Suhaidi dan Ust. Drs. H. Syahabuddin, yang begitu melekat pada kedua tokoh dan pelopor dalam menumbuhkembangan perjuangan Nahdlatul Wathan di tanah Jakarta.
Secara pribadi, Saya mengibaratkan mereka seperti “bunga” dan “tangkai”, yang begitu banyak memiliki keterkaitan antara satu dengan yang lain.
Mungkin tulisan ini akan banyak menimbulkan berbagai komentar dari para pembaca yang budiman, sebuah pengibaratan yang mungkin saja tidak sejalan dengan pemikiran yang para pembaca bayangkan pada kedua tokoh tersebut, namun demikan itulah yang saat ini Saya rasakan.
Akan tetapi, meski “bunga”ku tak ber”tangkai”, perjuangan Nahdlatul Wathan tidak akan pernah berubah dari tujuan awal dalam mengoptimalkan nilai-nilai pendidikan, sosial, dan dakwah. Nahdlatul Wathan akan tetap ada dan berkembang samapi hari kiamat.
Semoga darah perjuangan mereka dan seluruh guru-guru kami yang cinta dengan Nahdlatul Wathan tetap mengalir pada seluruh jiwa raga generasi penerus perjuangan Nahdlatul Wathan di mana saja berada.

Pokoknya…NW
Pokok NW…Iman dan Taqwa

Wallahul Muaffiqu Wal Hadi Ila Sabilirrasyad
Wassalamu’alaikum Wr. Wb

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada September 30, 2011 in Uncategorized

 

Hizib Nahdlatul Wathan tetap Menggema di Tanah Bekasi

Pokoknya… NW

Pokok NW… Iman dan Taqwa

Alhamdulillah, setelah melewati libur panjang Bulan Suci Ramadhan dan  Lebaran Idul Fitri, kegiatan Hiziban Keliling Ikatan Alumni Nahdlatul Wathan Bekasi kembali dimulai pada hari Minggu, 18 September 2011 yang bertempat di rumah saudara Sudirman-Edoy yang sekaligus merangkap sebagai ketua IANW Bekasi. Atas segala rahmat Allah yang MahaEsa, penuh harapan kami sebagai generasi pejuang Nahdlatul Wathan yang berada di Wilayah Bekasi dan sekitarnya mudah-mudahan kegiatan Berhizib keliling ini dapat membuka jalan perjuangan Nahdlatul Wathan di tanah Bekasi dan sekitarnya.

Mohon do’a restu kepada seluruh jiwa Nahdlatul Wathan di mana saja berada agar semangt perjuangan kam itidak luntur dengan segala gangguan dan godaan yang sangat besar saat ini kami rasakan.

Atas nama Ikatan Alumn Nahdlatul Wathan Bekasi kami menghimbau kepada seluruh Alumni di mana saja berada mari kita bawa nama Nahdlatul Wathan dengan segala kemampuan yang kita miliki.

NW-mu

NW-ku

NW kita bersama

Salam perjuangan untuk seluruh jiwa pejuang Nahdlatul Wathan di mana saja berada

Terimakasih

ttd

IANW Bekasi

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 21, 2011 in Uncategorized

 

Santunan dan Kunjungan Bupati Bekasi Jawa Barat

Bismillahi Wabihamdihi

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Pokoknya NW

Pokok NW Iman dan Taqwa

Salam sejahtera kepada seluruh Ikatan Alumni Nahdlatul Wathan di mana saja berada, semoga kemudahan senantiasa mengiri niat baik kita dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawab kita sehari-hari. Amin

Dalam rangka santunan dan kunjungan Bupati Bekasi ke Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Gabus Gedong Tambun Utara Bekasi Jawa Barat, kami pengurus Ikatan Alumni Nahdlatul Wathan Bekasi menghimbau dan mengajak kepada seluruh saudara-saudara alumni untuk dapat berpartisipasi dalam beberapa rangkaian acara pada kegiatan tersebut yang insya Allah akan dilaksanakan pada:

  1. Hari/Tanggal   : Jum’at, 12 Agustus 2011

Acara               : Rapat Gabungan persiapan acara santunan dan kunjungan

Waktu             : Pukul 20:00 (Ba’da Shalat Taraweh) – selesai

Tempat            : PonPes Nahdlatul Wathan Gabus Gedong Bekasi

  1. Hari/Tanggal   : Sabtu, 13 Agustus 2011

Acara               : Bakti sosial

Waktu             : Pukul 14:00 – selesai

Tempat            : PonPes Nahdlatul Wathan Gabus Gedong Bekasi

  1. Hari/Tanggal   : Minggu, 14 Agustus 2011

Acara               : Persiapan dan Santunan

Waktu             : Pukul 08:00 – selesai (Buka Bersama)

Tempat            : PonPes Nahdlatul Wathan Gabus Gedong Bekasi

Merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan bagi kami apabila saudara-saudara berkenan hadir pada beberapa rangkaian acara seperti yang tertulis di atas.

Atas kehadiran dan partisipasinya kami ucapkan terima kasih, hanya Allah swt yang mampu membalas niat baik yang kita lakukan.

Wallahul Muaffiqu Wal Hadi Ila Sabilirrasyad

Wassalamualaikum Wr. Wb

 

Ikatan Alumni Nahdlatul Wathan Bekasi

ttd

Dirman

Ketua

 

Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Gabus Gedong

ttd

M. Suruji, S.Pdi

Pengasuh

 

Mengetahui/Menyetujui

Yayasan Mi’rajus Shibyan Nahdlatul Wathan Jakarta

ttd

Drs. H. M. Suhaidi

Pembina

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 10, 2011 in Uncategorized

 

Makna & Manfaat Shalat Tarawih

  1. Bersih dirinya, seperti baru dilahirkan dari kandungan dari ibunya
  2. Diampuni dirinya dan kedua orang tuanya yang mukmin
  3. Allah SWT mengampuni dosanya yang telah lalu
  4. Dapat pahala sebanyak membaca kitab
  5. Mendapat pahala seperti sholat di Masjidil Harom, Nabawi dan Al-Aqsho
  6. Mendapat pahala seperti melaksanakan thowaf di Baitul Ma’mun dan memohonkan ampun untuknya semua batu-batu tanah liat
  7. Mendapat pahala seakan2 dia telah membantu Nabi Musa AS melawan Fir’aun & Haaman
  8. Mendapat pahala seperti pahala yang diterima Nabi Ibrahim AS
  9. Mendapat pahala seperti pahala yang diterima Nabi Muhammad SAW
  10. Allah SWT memberikan rizki kepadanya kebaikan didunia dan akhirat
  11. Saat bangkit dari kubur, seperti baru dilahirkan dari kandungan ibunyA
  12. Pada hari qiyamat, wajahnya bagus seperti bulan purnama
  13. Pada hari qiyamat, dia selamat aman dari segala resiko
  14. Allah SWT tidak akan menghisabnya di hari qiyamat
  15. Para malaikat memohonkan tambahan kebaikan untuk dia
  16. Allah SWT bebaskan dia dari Neraka dan membebaskan dia masuk Surga
  17. pahala sebanyak pahala para Nabi
  18. Allah SWT telah ridho kepadamu dan kepada kedua orang tuamu
  19. Allah SWT mengangkat derajatnya di Surga Firdaus
  20. Mendapat pahala sebanyak pahala para Syuhada dan para Sholihin
  21. Allah SWT membangunkan baginya di Surga sebuah rumah dari cahaya
  22. Di hari qiyamat dia datang dengan aman dari segala macam susah dan duka
  23. Di Surga, Allah SWT membangunkan baginya sebuah kota
  24. Allah SWT kabulkan baginya, sebanyak 24 macam doa
  25. Allah SWT membebaskan dia dari siksa kubur
  26. Allah SWT meningkatkan baginya pahala selama 40 tahun
  27. Melewati jembatan “Shirotol Mustaqim” dengan mudah dan cepat seperti kilat
  28. Allah SWT mengangkat baginya 1000 derajat didalam Surga
  29. Allah SWT memberikan kepadanya pahala seribu ibadah Haji yang diterima
  30. Allah SWT berfirman : “Makanlah buah-buahan Surga, Mandilah dengan air Salsabil danMinumlah dari telaga Kautsar, AKU adalah Tuhanmu dan engkau adalah hambaku.”

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 1, 2011 in Uncategorized

 

Berbenah Diri Menyambut Bulan Yang Suci

Allah Ta’ala telah mengutamakan sebagian waktu (zaman) di atas sebagian lainnya, sebagaimana Dia mengutamakan sebagian manusia di atas sebagian lainnya dan sebagian tempat di atas tempat lainnya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ

Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya, sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka” (QS al-Qashash:68).

Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di ketika menafsirkan ayat di atas, beliau berkata, “(Ayat ini menjelaskan) menyeluruhnya ciptaan Allah bagi seluruh makhluk-Nya, berlakunya kehendak-Nya bagi semua ciptaan-Nya, dan kemahaesaan-Nya dalam memilih dan mengistimewakan apa (yang dikehendaki-Nya), baik itu manusia, waktu (jaman) maupun tempat”[1].

Termasuk dalam hal ini adalah bulan Ramadhan yang Allah Ta’ala utamakan dan istimewakan dibanding bulan-bulan lainnya, sehingga dipilih-Nya sebagai waktu dilaksanakannya kewajiban berpuasa yang merupakan salah satu rukun Islam.

Sungguh Allah Ta’ala memuliakan bulan yang penuh berkah ini dan menjadikannya sebagai salah satu musim besar untuk menggapai kemuliaan di akhirat kelak, yang merupakan kesempatan bagi hamba-hamba Allah Ta’ala yang bertakwa untuk berlomba-lomba dalam melaksanakan ketaatan dan mendekatkan diri kepada-Nya[2].

Bagaimana Seorang Muslim Menyambut Bulan Ramadhan?

Bulan Ramadhan yang penuh kemuliaan dan keberkahan, padanya dilipatgandakan amal-amal kebaikan, disyariatkan amal-amal ibadah yang agung, di buka pintu-pintu surga dan di tutup pintu-pintu neraka[3].

Oleh karena itu, bulan ini merupakan kesempatan berharga yang ditunggu-tunggu oleh orang-orang yang beriman kepada Allah Ta’ala dan ingin meraih ridha-Nya.

Dan karena agungnya keutamaan bulan suci ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menyampaikan kabar gembira kepada para sahabat radhiyallahu ‘anhum akan kedatangan bulan yang penuh berkah ini[4].

Sahabat yang mulia, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, menyampaikan kabar gembira kepada para sahabatnya, “Telah datang bulan Ramadhan yang penuh keberkahan, Allah mewajibkan kalian berpuasa padanya, pintu-pintu surga di buka pada bulan itu, pintu-pintu neraka di tutup, dan para setan dibelenggu. Pada bulan itu terdapat malam (kemuliaan/lailatul qadr) yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang terhalangi (untuk mendapatkan) kebaikan malam itu maka sungguh dia telah dihalangi (dari keutamaan yang agung)”[5].

Imam Ibnu Rajab, ketika mengomentari hadits ini, beliau berkata, “Bagaimana mungkin orang yang beriman tidak gembira dengan dibukanya pintu-pintu surga? Bagaimana mungkin orang yang pernah berbuat dosa (dan ingin bertobat serta kembali kepada Allah Ta’ala) tidak gembira dengan ditutupnya pintu-pintu neraka? Dan bagaimana mungkin orang yang berakal tidak gembira ketika para setan dibelenggu?”[6].

Dulunya, para ulama salaf jauh-jauh hari sebelum datangnya bulan Ramadhan berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah Ta’ala agar mereka mencapai bulan yang mulia ini, karena mencapai bulan ini merupakan nikmat yang besar bagi orang-orang yang dianugerahi taufik oleh Alah Ta’ala. Mu’alla bin al-Fadhl berkata, “Dulunya (para salaf) berdoa kepada Allah Ta’ala (selama) enam bulan agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan, kemudian mereka berdoa kepada-Nya (selama) enam bulan (berikutnya) agar Dia menerima (amal-amal shaleh) yang mereka (kerjakan)”[7].

Maka hendaknya seorang muslim mengambil teladan dari para ulama salaf dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan, dengan bersungguh-sungguh berdoa dan mempersiapkan diri untuk mendulang pahala kebaikan, pengampunan serta keridhaan dari Allah Ta’ala, agar di akhirat kelak mereka akan merasakan kebahagiaan dan kegembiraan besar ketika bertemu Allah Ta’ala dan mendapatkan ganjaran yang sempurna dari amal kebaikan mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang berpuasa akan merasakan dua kegembiraan (besar): kegembiraan ketika berbuka puasa dan kegembiraan ketika dia bertemu Allah[8].

Tentu saja persiapan diri yang dimaksud di sini bukanlah dengan memborong berbagai macam makanan dan minuman lezat di pasar untuk persiapan makan sahur dan balas dendam ketika berbuka puasa. Juga bukan dengan mengikuti berbagai program acara Televisi yang lebih banyak merusak dan melalaikan manusia dari mengingat Allah Ta’ala dari pada manfaat yang diharapkan, itupun kalau ada manfaatnya.

Tapi persiapan yang dimaksud di sini adalah mempersiapkan diri lahir dan batin untuk melaksanakan ibadah puasa dan ibadah-ibadah agung lainnya di bulan Ramadhan dengan sebaik-sebaiknya, yaitu dengan hati yang ikhlas dan praktek ibadah yang sesuai dengan petunjuk dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena balasan kebaikan/keutamaan dari semua amal shaleh yang dikerjakan manusia, sempurna atau tidaknya, tergantung dari sempurna atau kurangnya keikhlasannya dan jauh atau dekatnya praktek amal tersebut dari petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam[9].

Hal ini diisyaratkan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sungguh seorang hamba benar-benar melaksanakan shalat, tapi tidak dituliskan baginya dari (pahala kebaikan) shalat tersebut kecuali sepersepuluhnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya, atau seperduanya”[10].

Juga dalam hadits lain tentang puasa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Terkadang orang yang berpuasa tidak mendapatkan bagian dari puasanya kecuali lapar dan dahaga saja[11].

Meraih Takwa dan Kesucian Jiwa dengan Puasa Ramadhan

Hikmah dan tujuan utama diwajibkannya puasa adalah untuk mencapai takwa kepada Allah Ta’ala[12], yang hakikatnya adalah kesucian jiwa dan kebersihan hati[13]. Maka bulan Ramadhan merupakan kesempatan berharga bagi seorang muslim untuk berbenah diri guna meraih takwa kepada Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa” (QS al-Baqarah:183).

Imam Ibnu Katsir berkata, “Dalam ayat ini Allah Ta’ala berfirman kepada orang-orang yang beriman dan memerintahkan mereka untuk (melaksanakan ibadah) puasa, yang berarti menahan (diri) dari makan, minum dan hubungan suami-istri dengan niat ikhlas karena Allah Ta’ala (semata), karena puasa (merupakan sebab untuk mencapai) kebersihan dan kesucian jiwa, serta menghilangkan noda-noda buruk (yang mengotori hati) dan semua tingkah laku yang tercela”[14].

Lebih lanjut, Syaikh Abdur Rahman as-Sa’di menjelaskan unsur-unsur takwa yang terkandung dalam ibadah puasa, sebagai berikut:

– Orang yang berpuasa (berarti) meninggalkan semua yang diharamkan Allah (ketika berpuasa), berupa makan, minum, berhubungan suami-istri dan sebagainya, yang semua itu diinginkan oleh nafsu manusia, untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mengharapkan balasan pahala dari-Nya dengan meninggalkan semua itu, ini adalah termasuk takwa (kepada-Nya).

– Orang yang berpuasa (berarti) melatih dirinya untuk (merasakan) muraqabatullah (selalu merasakan pengawasan Allah Ta’ala), maka dia meninggalkan apa yang diinginkan hawa nafsunya padahal dia mampu (melakukannya), karena dia mengetahui Allah maha mengawasi (perbuatan)nya.

– Sesungguhnya puasa akan mempersempit jalur-jalur (yang dilalui) setan (dalam diri manusia), karena sesungguhnya setan beredar dalam tubuh manusia di tempat mengalirnya darah[15], maka dengan berpuasa akan lemah kekuatannya dan berkurang perbuatan maksiat dari orang tersebut.

– Orang yang berpuasa umumnya banyak melakukan ketaatan (kepada Allah Ta’ala), dan amal-amal ketaatan merupakan bagian dari takwa.

– Orang yang kaya jika merasakan beratnya (rasa) lapar (dengan berpuasa) maka akan menimbulkan dalam dirinya (perasaan) iba dan selalu menolong orang-orang miskin dan tidak mampu, ini termasuk bagian dari takwa[16].

Bulan Ramadhan merupakan musim kebaikan untuk melatih dan membiasakan diri memiliki sifat-sifat mulia dalam agama Islam, di antaranya sifat sabar. Sifat ini sangat agung kedudukannya dalam Islam, bahkan tanpa adanya sifat sabar berarti iman seorang hamba akan pudar. Imam Ibnul Qayyim menggambarkan hal ini dalam ucapan beliau, “Sesungguhnya (kedudukan sifat) sabar dalam keimanan (seorang hamba) adalah seperti kedudukan kepala (manusia) pada tubuhnya, kalau kepala manusia hilang maka tidak ada kehidupan bagi tubuhnya”[17].

Sifat yang agung ini, sangat erat kaitannya dengan puasa, bahkan puasa itu sendiri adalah termasuk kesabaran. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang shahih menamakan bulan puasa dengan syahrush shabr (bulan kesabaran)[18]. Bahkan Allah menjadikan ganjaran pahala puasa berlipat-lipat ganda tanpa batas[19], sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Semua amal (shaleh yang dikerjakan) manusia dilipatgandakan (pahalanya), satu kebaikan (diberi ganjaran) sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman: “Kecuali puasa (ganjarannya tidak terbatas), karena sesungguhnya puasa itu (khusus) untuk-Ku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran (kebaikan) baginya[20].

Demikian pula sifat sabar, ganjaran pahalanya tidak terbatas, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

{إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ}

“Sesungguhnya orang-orang yang bersabar akan disempurnakan (ganjaran) pahala mereka tanpa batas” (QS az-Zumar:10).

Imam Ibnu Rajab al-Hambali menjelaskan eratnya hubungan puasa dengan sifat sabar dalam ucapan beliau,“Sabar itu ada tiga macam: sabar dalam (melaksanakan) ketaatan kepada Allah, sabar dalam (meninggalkan) hal-hal yang diharamkan-Nya, dan sabar (dalam menghadapi) ketentuan-ketentuan-Nya yang tidak sesuai dengan keinginan (manusia). Ketiga macam sabar ini (seluruhnya) terkumpul dalam (ibadah) puasa, karena (dengan) berpuasa (kita harus) bersabar dalam (menjalankan) ketaatan kepada Allah, dan bersabar dari semua keinginan syahwat yang diharamkan-Nya bagi orang yang berpuasa, serta bersabar dalam (menghadapi) beratnya (rasa) lapar, haus, dan lemahnya badan yang dialami orang yang berpuasa”[21].

Penutup

Demikianlah nasehat ringkas tentang keutamaan bulan Ramadhan, semoga bermanfaat bagi semua orang muslim yang beriman kepada Allah Ta’ala dan mengharapkan ridha-Nya, serta memberi motivasi bagi mereka untuk bersemangat menyambut bulan Ramadhan yang penuh kemuliaan dan mempersiapkan diri dalam perlombaan untuk meraih pengampunan dan kemuliaan dari-Nya, dengan bersungguh-sungguh mengisi bulan Ramadhan dengan ibadah-ibadah agung yang disyariatkan-Nya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pada setiap malam (di bulan Ramadhan) ada penyeru (malaikat) yang menyerukan: Wahai orang yang menghendaki kebaikan hadapkanlah (dirimu), dan wahai orang yang menghendaki keburukan kurangilah (keburukanmu)!”[22].

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Kendari, 6 Sya’ban 1431 H

Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA

Artikel www.muslim.or.id


[1]Kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 622).

[2] Lihat kitab “al-‘Ibratu fi syahrish shaum” (hal. 5) tulisan guru kami yang mulia, syaikh ‘Abdul Muhsin bin Hamd al-‘Abbad – semoga Allah menjaga beliau dalam kebaikan – .

[3] Sebagaimana yang disebutkan dalam HSR al-Bukhari (no. 3103) dan Muslim (no. 1079).

[4] Lihat keterangan imam Ibnu Rajab al-Hambali dalam kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 174).

[5] HR Ahmad (2/385), an-Nasa’i (no. 2106) dan lain-lain, dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani dalam kitab “Tamaamul minnah” (hal. 395), karena dikuatkan dengan riwayat-riwayat lain.

[6] Kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 174).

[7] Dinukil oleh imam Ibnu Rajab al-Hambali dalam kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 174).

[8] HSR al-Bukhari (no. 7054) dan Muslim (no. 1151).

[9] Lihat kitab “Shifatu shalaatin Nabi r” (hal. 36) tulisan syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani.

[10] HR Ahmad (4/321), Abu Dawud (no. 796) dan Ibnu Hibban (no. 1889), dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, al-‘Iraqi dan syaikh al-Albani dalam kitab “Shalaatut taraawiih (hal. 119).

[11] HR Ibnu Majah (no. 1690), Ahmad (2/373), Ibnu Khuzaimah (no. 1997) dan al-Hakim (no. 1571) dinyatakan shahih oleh Ibnu Khuzaimah, al-Hakim dan syaikh al-Albani.

[12] Lihat kitab “Tafsiirul Qur’anil kariim” (2/317) tulisan syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin.

[13] Lihat kitab “Manhajul Anbiya’ fii tazkiyatin nufuus” (hal. 19-20).

[14] Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (1/289).

[15] Sebagaimana dalam HSR al-Bukhari (no. 1933) dan Muslim (no. 2175).

[16] Kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 86).

[17] Kitab “al-Fawa-id” (hal. 97).

[18] Lihat “Silsilatul ahaaditsish shahiihah” (no. 2623).

[19] Lihat kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 177).

[20] HSR al-Bukhari (no. 1805) dan Muslim (no. 1151), lafazh ini yang terdapat dalam “Shahih Muslim”.

[21] Kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 177).

[22] HR at-Tirmidzi (no. 682), Ibnu Majah (no. 1642), Ibnu Khuzaimah (no. 1883) dan Ibnu Hibban (no. 3435), dinyatakan shahih oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan syaikh al-Albani.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 27, 2011 in Uncategorized