RSS

Arsip Bulanan: Juli 2011

Berbenah Diri Menyambut Bulan Yang Suci

Allah Ta’ala telah mengutamakan sebagian waktu (zaman) di atas sebagian lainnya, sebagaimana Dia mengutamakan sebagian manusia di atas sebagian lainnya dan sebagian tempat di atas tempat lainnya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ

Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya, sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka” (QS al-Qashash:68).

Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di ketika menafsirkan ayat di atas, beliau berkata, “(Ayat ini menjelaskan) menyeluruhnya ciptaan Allah bagi seluruh makhluk-Nya, berlakunya kehendak-Nya bagi semua ciptaan-Nya, dan kemahaesaan-Nya dalam memilih dan mengistimewakan apa (yang dikehendaki-Nya), baik itu manusia, waktu (jaman) maupun tempat”[1].

Termasuk dalam hal ini adalah bulan Ramadhan yang Allah Ta’ala utamakan dan istimewakan dibanding bulan-bulan lainnya, sehingga dipilih-Nya sebagai waktu dilaksanakannya kewajiban berpuasa yang merupakan salah satu rukun Islam.

Sungguh Allah Ta’ala memuliakan bulan yang penuh berkah ini dan menjadikannya sebagai salah satu musim besar untuk menggapai kemuliaan di akhirat kelak, yang merupakan kesempatan bagi hamba-hamba Allah Ta’ala yang bertakwa untuk berlomba-lomba dalam melaksanakan ketaatan dan mendekatkan diri kepada-Nya[2].

Bagaimana Seorang Muslim Menyambut Bulan Ramadhan?

Bulan Ramadhan yang penuh kemuliaan dan keberkahan, padanya dilipatgandakan amal-amal kebaikan, disyariatkan amal-amal ibadah yang agung, di buka pintu-pintu surga dan di tutup pintu-pintu neraka[3].

Oleh karena itu, bulan ini merupakan kesempatan berharga yang ditunggu-tunggu oleh orang-orang yang beriman kepada Allah Ta’ala dan ingin meraih ridha-Nya.

Dan karena agungnya keutamaan bulan suci ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menyampaikan kabar gembira kepada para sahabat radhiyallahu ‘anhum akan kedatangan bulan yang penuh berkah ini[4].

Sahabat yang mulia, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, menyampaikan kabar gembira kepada para sahabatnya, “Telah datang bulan Ramadhan yang penuh keberkahan, Allah mewajibkan kalian berpuasa padanya, pintu-pintu surga di buka pada bulan itu, pintu-pintu neraka di tutup, dan para setan dibelenggu. Pada bulan itu terdapat malam (kemuliaan/lailatul qadr) yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang terhalangi (untuk mendapatkan) kebaikan malam itu maka sungguh dia telah dihalangi (dari keutamaan yang agung)”[5].

Imam Ibnu Rajab, ketika mengomentari hadits ini, beliau berkata, “Bagaimana mungkin orang yang beriman tidak gembira dengan dibukanya pintu-pintu surga? Bagaimana mungkin orang yang pernah berbuat dosa (dan ingin bertobat serta kembali kepada Allah Ta’ala) tidak gembira dengan ditutupnya pintu-pintu neraka? Dan bagaimana mungkin orang yang berakal tidak gembira ketika para setan dibelenggu?”[6].

Dulunya, para ulama salaf jauh-jauh hari sebelum datangnya bulan Ramadhan berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah Ta’ala agar mereka mencapai bulan yang mulia ini, karena mencapai bulan ini merupakan nikmat yang besar bagi orang-orang yang dianugerahi taufik oleh Alah Ta’ala. Mu’alla bin al-Fadhl berkata, “Dulunya (para salaf) berdoa kepada Allah Ta’ala (selama) enam bulan agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan, kemudian mereka berdoa kepada-Nya (selama) enam bulan (berikutnya) agar Dia menerima (amal-amal shaleh) yang mereka (kerjakan)”[7].

Maka hendaknya seorang muslim mengambil teladan dari para ulama salaf dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan, dengan bersungguh-sungguh berdoa dan mempersiapkan diri untuk mendulang pahala kebaikan, pengampunan serta keridhaan dari Allah Ta’ala, agar di akhirat kelak mereka akan merasakan kebahagiaan dan kegembiraan besar ketika bertemu Allah Ta’ala dan mendapatkan ganjaran yang sempurna dari amal kebaikan mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang berpuasa akan merasakan dua kegembiraan (besar): kegembiraan ketika berbuka puasa dan kegembiraan ketika dia bertemu Allah[8].

Tentu saja persiapan diri yang dimaksud di sini bukanlah dengan memborong berbagai macam makanan dan minuman lezat di pasar untuk persiapan makan sahur dan balas dendam ketika berbuka puasa. Juga bukan dengan mengikuti berbagai program acara Televisi yang lebih banyak merusak dan melalaikan manusia dari mengingat Allah Ta’ala dari pada manfaat yang diharapkan, itupun kalau ada manfaatnya.

Tapi persiapan yang dimaksud di sini adalah mempersiapkan diri lahir dan batin untuk melaksanakan ibadah puasa dan ibadah-ibadah agung lainnya di bulan Ramadhan dengan sebaik-sebaiknya, yaitu dengan hati yang ikhlas dan praktek ibadah yang sesuai dengan petunjuk dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena balasan kebaikan/keutamaan dari semua amal shaleh yang dikerjakan manusia, sempurna atau tidaknya, tergantung dari sempurna atau kurangnya keikhlasannya dan jauh atau dekatnya praktek amal tersebut dari petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam[9].

Hal ini diisyaratkan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sungguh seorang hamba benar-benar melaksanakan shalat, tapi tidak dituliskan baginya dari (pahala kebaikan) shalat tersebut kecuali sepersepuluhnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya, atau seperduanya”[10].

Juga dalam hadits lain tentang puasa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Terkadang orang yang berpuasa tidak mendapatkan bagian dari puasanya kecuali lapar dan dahaga saja[11].

Meraih Takwa dan Kesucian Jiwa dengan Puasa Ramadhan

Hikmah dan tujuan utama diwajibkannya puasa adalah untuk mencapai takwa kepada Allah Ta’ala[12], yang hakikatnya adalah kesucian jiwa dan kebersihan hati[13]. Maka bulan Ramadhan merupakan kesempatan berharga bagi seorang muslim untuk berbenah diri guna meraih takwa kepada Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa” (QS al-Baqarah:183).

Imam Ibnu Katsir berkata, “Dalam ayat ini Allah Ta’ala berfirman kepada orang-orang yang beriman dan memerintahkan mereka untuk (melaksanakan ibadah) puasa, yang berarti menahan (diri) dari makan, minum dan hubungan suami-istri dengan niat ikhlas karena Allah Ta’ala (semata), karena puasa (merupakan sebab untuk mencapai) kebersihan dan kesucian jiwa, serta menghilangkan noda-noda buruk (yang mengotori hati) dan semua tingkah laku yang tercela”[14].

Lebih lanjut, Syaikh Abdur Rahman as-Sa’di menjelaskan unsur-unsur takwa yang terkandung dalam ibadah puasa, sebagai berikut:

– Orang yang berpuasa (berarti) meninggalkan semua yang diharamkan Allah (ketika berpuasa), berupa makan, minum, berhubungan suami-istri dan sebagainya, yang semua itu diinginkan oleh nafsu manusia, untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mengharapkan balasan pahala dari-Nya dengan meninggalkan semua itu, ini adalah termasuk takwa (kepada-Nya).

– Orang yang berpuasa (berarti) melatih dirinya untuk (merasakan) muraqabatullah (selalu merasakan pengawasan Allah Ta’ala), maka dia meninggalkan apa yang diinginkan hawa nafsunya padahal dia mampu (melakukannya), karena dia mengetahui Allah maha mengawasi (perbuatan)nya.

– Sesungguhnya puasa akan mempersempit jalur-jalur (yang dilalui) setan (dalam diri manusia), karena sesungguhnya setan beredar dalam tubuh manusia di tempat mengalirnya darah[15], maka dengan berpuasa akan lemah kekuatannya dan berkurang perbuatan maksiat dari orang tersebut.

– Orang yang berpuasa umumnya banyak melakukan ketaatan (kepada Allah Ta’ala), dan amal-amal ketaatan merupakan bagian dari takwa.

– Orang yang kaya jika merasakan beratnya (rasa) lapar (dengan berpuasa) maka akan menimbulkan dalam dirinya (perasaan) iba dan selalu menolong orang-orang miskin dan tidak mampu, ini termasuk bagian dari takwa[16].

Bulan Ramadhan merupakan musim kebaikan untuk melatih dan membiasakan diri memiliki sifat-sifat mulia dalam agama Islam, di antaranya sifat sabar. Sifat ini sangat agung kedudukannya dalam Islam, bahkan tanpa adanya sifat sabar berarti iman seorang hamba akan pudar. Imam Ibnul Qayyim menggambarkan hal ini dalam ucapan beliau, “Sesungguhnya (kedudukan sifat) sabar dalam keimanan (seorang hamba) adalah seperti kedudukan kepala (manusia) pada tubuhnya, kalau kepala manusia hilang maka tidak ada kehidupan bagi tubuhnya”[17].

Sifat yang agung ini, sangat erat kaitannya dengan puasa, bahkan puasa itu sendiri adalah termasuk kesabaran. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang shahih menamakan bulan puasa dengan syahrush shabr (bulan kesabaran)[18]. Bahkan Allah menjadikan ganjaran pahala puasa berlipat-lipat ganda tanpa batas[19], sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Semua amal (shaleh yang dikerjakan) manusia dilipatgandakan (pahalanya), satu kebaikan (diberi ganjaran) sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman: “Kecuali puasa (ganjarannya tidak terbatas), karena sesungguhnya puasa itu (khusus) untuk-Ku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran (kebaikan) baginya[20].

Demikian pula sifat sabar, ganjaran pahalanya tidak terbatas, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

{إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ}

“Sesungguhnya orang-orang yang bersabar akan disempurnakan (ganjaran) pahala mereka tanpa batas” (QS az-Zumar:10).

Imam Ibnu Rajab al-Hambali menjelaskan eratnya hubungan puasa dengan sifat sabar dalam ucapan beliau,“Sabar itu ada tiga macam: sabar dalam (melaksanakan) ketaatan kepada Allah, sabar dalam (meninggalkan) hal-hal yang diharamkan-Nya, dan sabar (dalam menghadapi) ketentuan-ketentuan-Nya yang tidak sesuai dengan keinginan (manusia). Ketiga macam sabar ini (seluruhnya) terkumpul dalam (ibadah) puasa, karena (dengan) berpuasa (kita harus) bersabar dalam (menjalankan) ketaatan kepada Allah, dan bersabar dari semua keinginan syahwat yang diharamkan-Nya bagi orang yang berpuasa, serta bersabar dalam (menghadapi) beratnya (rasa) lapar, haus, dan lemahnya badan yang dialami orang yang berpuasa”[21].

Penutup

Demikianlah nasehat ringkas tentang keutamaan bulan Ramadhan, semoga bermanfaat bagi semua orang muslim yang beriman kepada Allah Ta’ala dan mengharapkan ridha-Nya, serta memberi motivasi bagi mereka untuk bersemangat menyambut bulan Ramadhan yang penuh kemuliaan dan mempersiapkan diri dalam perlombaan untuk meraih pengampunan dan kemuliaan dari-Nya, dengan bersungguh-sungguh mengisi bulan Ramadhan dengan ibadah-ibadah agung yang disyariatkan-Nya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pada setiap malam (di bulan Ramadhan) ada penyeru (malaikat) yang menyerukan: Wahai orang yang menghendaki kebaikan hadapkanlah (dirimu), dan wahai orang yang menghendaki keburukan kurangilah (keburukanmu)!”[22].

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Kendari, 6 Sya’ban 1431 H

Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA

Artikel www.muslim.or.id


[1]Kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 622).

[2] Lihat kitab “al-‘Ibratu fi syahrish shaum” (hal. 5) tulisan guru kami yang mulia, syaikh ‘Abdul Muhsin bin Hamd al-‘Abbad – semoga Allah menjaga beliau dalam kebaikan – .

[3] Sebagaimana yang disebutkan dalam HSR al-Bukhari (no. 3103) dan Muslim (no. 1079).

[4] Lihat keterangan imam Ibnu Rajab al-Hambali dalam kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 174).

[5] HR Ahmad (2/385), an-Nasa’i (no. 2106) dan lain-lain, dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani dalam kitab “Tamaamul minnah” (hal. 395), karena dikuatkan dengan riwayat-riwayat lain.

[6] Kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 174).

[7] Dinukil oleh imam Ibnu Rajab al-Hambali dalam kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 174).

[8] HSR al-Bukhari (no. 7054) dan Muslim (no. 1151).

[9] Lihat kitab “Shifatu shalaatin Nabi r” (hal. 36) tulisan syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani.

[10] HR Ahmad (4/321), Abu Dawud (no. 796) dan Ibnu Hibban (no. 1889), dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, al-‘Iraqi dan syaikh al-Albani dalam kitab “Shalaatut taraawiih (hal. 119).

[11] HR Ibnu Majah (no. 1690), Ahmad (2/373), Ibnu Khuzaimah (no. 1997) dan al-Hakim (no. 1571) dinyatakan shahih oleh Ibnu Khuzaimah, al-Hakim dan syaikh al-Albani.

[12] Lihat kitab “Tafsiirul Qur’anil kariim” (2/317) tulisan syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin.

[13] Lihat kitab “Manhajul Anbiya’ fii tazkiyatin nufuus” (hal. 19-20).

[14] Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (1/289).

[15] Sebagaimana dalam HSR al-Bukhari (no. 1933) dan Muslim (no. 2175).

[16] Kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 86).

[17] Kitab “al-Fawa-id” (hal. 97).

[18] Lihat “Silsilatul ahaaditsish shahiihah” (no. 2623).

[19] Lihat kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 177).

[20] HSR al-Bukhari (no. 1805) dan Muslim (no. 1151), lafazh ini yang terdapat dalam “Shahih Muslim”.

[21] Kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 177).

[22] HR at-Tirmidzi (no. 682), Ibnu Majah (no. 1642), Ibnu Khuzaimah (no. 1883) dan Ibnu Hibban (no. 3435), dinyatakan shahih oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan syaikh al-Albani.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 27, 2011 in Uncategorized

 

Jadwal Kegiatan Pembacaan Dzikir Hizib Nahdlatul Wathan Ikatan Alumni Nahdlatul Wathan Jakarta Cabang Bekasi Jawa Barat

 

No.

Tanggal

Nama/Tempat

Alamat

Ket.

1

11/9/2011

Dirman – Edoy

Gabus Srijaya

 

2

25/09/2011

Ujang

Gabus Srijaya

 

3

9/10/2011

Nendi

Gabus Srijaya

 

4

23/10/2011

Sarwin

Tambun Bulak

 

5

6/11/2011

Simbang

Tambun Bulak

 

6

20/11/2011

Subur

Gabus Srijaya

 

7

4/12/2011

Mulyadi

Gabus Srijaya

 

8

18/12/2011

Wahidi

Cikarang

 

9

1/1/2012

Roy

Gabus Srimukti

 

10

15/01/2012

Abdul – Bayu

Gabus Srijaya

 

11

29/01/2012

Agus S

Turi

 

12

12/2/2012

Gunin

Gabus Srijaya

 

13

26/02/2012

Arifuddin

Tambun Bulak

 

14

11/3/2012

Sarodi

Tambun Bulak

 

15

25/03/2012

Rohim

Turi

 

16

8/4/2012

Jayani

Gabus Srimukti

 

17

22/04/2012

Surya

Gabus Srimukti

 

18

6/5/2012

Yanto

Gedong Gede

 

19

20/05/2012

Sidiq

Gabus Srijaya

 

20

3/6/2012

Pardi

Gabus Srijaya

 

21

17/06/2012

Aman

Tambun Bulak

 

22

1/7/2012

Anwar

Gabus Srijaya

 

23

15/07/2012

Saiful Anwar

Gabus Srijaya

 

24

29/07/2012

Mukhlis

Cikarang

 

25

 

Sadam

Tambun Bulak

 

L   e   b   a   r   a   n

26

Irfan

Turi

 

27

Bobi – Candra

Tambun Bulak

 

28

Arafat

Gabus Srijaya

 

29

Dirman – Gray

Gabus Srijaya

 

30

Sanin

Tambun Bulak

 

31

Andre

Tambun Bulak

 

32

Misro

Gabus Srijaya

 

33

Mulyono

Gabus Srimukti

 

34

Ade

Gabus Srijaya

 

35

Haris

Turi

 

36

Midih

Tambun Bulak

 

37

Heri K

Gabus Srijaya

 

38

Sarkam

Gabus Srijaya

 

39

Idin

Gabus Srimukti

 

40

Agung

Gabus Srimukti

 

41

Raih

Gabus Srimukti

 

42

Heriono

Gabus Srijaya

 

43

   

44

   

45

   

NB:

– Simpan dan tempel jadwal ini dg rapi.

–  Untuk nomor urut 26-45 dilaksanakan setelah Lebaran mendatang.

–  Bagi yg ingin “bertukaran jadwal”, langsung konfirmasi kepada “orang yg bersangkutan” dan segera menginformasikan ke ketua (Dirman: 02191744648).

–  Iuran Kas Alumni Rp. 5000/orang untuk satu kali pertemuan.

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 26, 2011 in Uncategorized

 

Jadwal Petugas Ramadhan Masjid At-Tawwabin

 

No

Tanggal

Bilal

Imam

Keterangan

1

31/07/2011

Subur Sukma Jaya

2

1/08/2011

M. Suruji, S.Pdi

3

2/08/2011

Ujang Supriyatna

4

3/08/2011

Agus Supriyanto

5

4/08/2011

M. Nendi

6

5/08/2011

Sarodi

7

6/08/2011

Subur Sukma Jaya

8

7/08/2011

Subur Sukma Jaya

9

8/08/2011

M. Suruji, S.Pdi

10

9/08/2011

Ujang Supriyatna

11

10/08/2011

Agus Supriyanto

12

11/08/2011

M. Nendi

13

12/08/2011

Sarodi

14

13/08/2011

Subur Sukma Jaya

15

14/08/2011

Subur Sukma Jaya

16

15/08/2011

M. Suruji, S. Pdi

17

16/08/2011

Ujang Supriyatna

18

17/08/2011

Agus Supriyanto

19

18/08/2011

M. Nendi

20

19/08/2011

Sarodi

21

20/08/2011

Sarodi

22

21/08/2011

Sarodi

23

22/08/2011

M. Suruji, S. Pdi

24

23/08/2011

Ujang Supriyatna

25

24/08/2011

Agus Supriyanto

26

25/08/2011

M. Nendi

27

26/08/2011

Sarodi

28

27/08/2011

Subur Sukma Jaya

29

28/08/2011

Subur Sukma Jaya

30

 

NB: – Bagi petugas yang berhalangan hadir segera menginformasikan satu hari sebelumnya ke:

  1. Ust. Amrul: 087887270732
  2. Ust. M. Suruji : 081906854630
  3. Ust. Subur Sukma Jaya: 085691046650
 
4 Komentar

Ditulis oleh pada Juli 26, 2011 in Uncategorized

 

Jadwal Petugas Ramadhan Masjid Al-Abror Nahdlatul Wathan Gabus Gedong Bekasi Jawa Barat

 

No

Tanggal

Muadzin

Bilal

Imam

Keterangan

1

31/07/2011

Anan

Dirman

M. Suruji

2

1/08/2011

Ajay

Anan

Ujang

3

2/08/2011

Yudi

Mulyadi

M. Nendi

4

3/08/2011

Bayu

Surya

Subur

5

4/08/2011

Yono

Agung

Agus

6

5/08/2011

Qohar

Roy

Nigun

7

6/08/2011

Guntur

Yanto

Pardi

8

7/08/2011

Anan

Dirman

M. Suruji

9

8/08/2011

Ajay

Anan

Ujang

10

9/08/2011

Yudi

Mulyadi

M. Nendi

11

10/08/2011

Bayu

Surya

Subur

12

11/08/2011

Yono

Agung

Agus

13

12/08/2011

Qohar

Roy

Nigun

14

13/08/2011

Guntur

Yanto

Pardi

15

14/08/2011

Anan

Dirman

M. Suruji

16

15/08/2011

Ajay

Anan

Ujang

17

16/08/2011

Yudi

Mulyadi

M. Nendi

18

17/08/2011

Bayu

Surya

Subur

19

18/08/2011

Yono

Agung

Agus

20

19/08/2011

Qohar

Roy

Nigun

21

20/08/2011

Guntur

Yanto

Pardi

22

21/08/2011

Anan

Dirman

M. Suruji

23

22/08/2011

Ajay

Anan

Ujang

24

23/08/2011

Yudi

Mulyadi

M. Nendi

25

24/08/2011

Bayu

Surya

Subur

26

25/08/2011

Yono

Agung

Agus

27

26/08/2011

Qohar

Roy

Nigun

28

27/08/2011

Guntur

Yanto

Pardi

29

28/08/2011

Anan

Dirman

M. Suruji

30

 

Bekasi, 31 Juli 2011

Pengurus Pondok Pesantren

Nahdlatul Wathan Gabus Gedong

ttd

Muhammad Suruji, S.Pdi

Ketua

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 26, 2011 in Uncategorized

 

Yakin dan Optimis

Kami Ikatan Alumni Nahdlatul Wathan Bekasi yakin dan optimis bahwa Nahdlatul Wathan di Bekasi kelak akan berkibar dan tersebar di seluruh wilayah Bekasi, mohon do’a restu dan dukungan darisemua pihak terkait. NW milik kita bersama, bersama untuk NW.
Semoga perjuangan kita diberkahi dan dirahmati oleh Allah swt..

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Juli 5, 2011 in Uncategorized